My Photo

Endless Playlist

  • Turn of The Century
    Yes: Going For The One (1977)
  • Cinema Show
    Genesis: Selling England By The Pound (1973)
  • Fool's Overture
    Supertramp: Even In The Quietest Moment
  • Byblos
    Chicago: Chicago VIII (1974)
  • Birthright
    Anderson, Bruford, Wakeman, Howe: Anderson, Bruford, Wakeman, Howe (1989)
  • Kool & The Gang - Ladies Night
  • Boogie Wonderland
    Earth, Wind & Fire: I Am (1979)
  • Samba In Your Casa
    Matt Bianco: Samba In Your Casa (1990)
  • The Great Gig In The Sky
    Pink Floyd: Dark Side of the Moon (1973)
  • Take Me Home
    Sophie Ellis-Bextor: Read My Lips (2001)
  • Human
    Human League: Crash (1986)
Powered by Friendster Blogs

QUEEN & COUNTRY: TANDINGAN CLANCY

dipublikasikan di Koran Tempo, suplemen Ruang Baca, 30 Maret 2008
Dunia intelijen dan spionase dalam komik sebenar-benarnya.

Lupakanlah romantisme dan eksotisme dunia spionase ala James Bond atau The Saint. Tidak ada agen rahasia cantik atau ganteng rupa, dengan senjata mutakhir nan canggih. Greg Rucka menciptakan serial komik Queen & Country mendekati kenyataan. Baku hantam, spionase, penyamaran, operasi rahasia, pembebasan sandera, pembunuhan, hingga insiden antar negara tercipta disini. Qc1a

Penggemar novel-novel spionase seperti Tom Clancy akan menemukan tandingannya dalam serial komik ini. Dimulai sejak tahun 2001 penggemar tetap menantikan sepak terjang Tara Chace, sang tokoh utama, dengan para koleganya dari Dinas Intelijen Rahasia, Kerajaan Inggris. Mengambil setting dunia politik masa kini, pasca perang dingin, ketika perbedaan ideologi antar negara tak lagi memicu peperangan. Kini perbedaan kepentingan lah yang menjadi sumber konflik. Siapa sang penjahat tidak terdefinisi dengan jelas, dan tugas yang harus dilaksanakan tidak dideskripsikan dengan jelas. Terkadang mereka saling membunuh untuk memelihara status quo, keseimbangan politik atau ”hubungan istimewa”. Mereka adalah orang-orang yang mampu meletakkan tangan pada aneka senjata di negeri asing untuk melakukan pembunuhan dan kejahatan perang, namun tak diizinkan bahkan untuk memegang pisau lipat di negerinya sendiri. Setiap peluru yang diletuskan memiliki konsekuensi, dan setiap langkah dalam melakukan tugas akan kembali menghantuimu.

Queen & Country adalah tentang orang-orang yang menghadapi kenyataan yang orang-orang biasa tidak alami. Ia berkisah tentang tangan-tangan dari tangan-tangan yang tak terlihat, yang mampu menjangkau dunia seberang untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Sebuah dunia kelabu yang kejam dan berisi orang-orang yang bertindak tidak selalu berdasarkan pemikiran yang benar. Terkadang lebih karena melakukan apa yang harus dilakukan pada saat itu, dan membiarkan para malaikat mengetahui apa yang bisa terjadi jika ia mengambil tindakan alternatifnya.Qc2a

Setiap membalikkan halaman, serasa nafas kita tertahan menantikan suspense demi suspense. Tidak hanya oleh sepak terjang Tara Chace, namun juga para kolega dan pimpinannya yang menghadapi ’peperangan’ dibalik meja. Kemampuan Rucka membangun kisah, yang terkadang pembaca berpikir ,”Apakah seperti ini dunia intelijen yang sesungguhnya?”, membuatnya dicintai banyak penerbit komik. Eisner Awards, penghargaan prestisius dibidang komik dan novel grafis, menghadiahinya dengan tiga penghargaan. DC Comics sempat mengajaknya sebagai penulis naskah serial Wonder Woman dan Superman.

Qc3a Greg Rucka secara piawai mampu mencampuradukkan kompleksitas politik, moral dan emosi. Setiap episode (yang kadang terdiri dari 4-7 nomor satuan) diberi judul sebagaimana kebiasaan di dunia intelijen. Lihat saja Operation: Red Panda, Operation: Morningstar, Operation: Black Wall, dan lainnya. Dinas Intelijen Rahasia Inggris dipimpin oleh seorang pria sinis dan sarkastis, Paul Crocker, yang membawahi (hanya) tiga orang agen rahasia. Ketiganya, dimana lebih banyak Tara Chace yang turun ke lapangan untuk eksekusi perintah, mencakup seluruh kegiatan operasi diseluruh dunia. Bagaimana seorang tokoh utama wanita, yang tidak terlihat fotogenik dan sensual, dengan senjata di tangan mampu melaksanakan tugas seperti Tara Chace?

Tidak ada faktor keajaiban dan kebetulan dalam Queen and Country. Jika anda lengah, anda mati. Jika terjebak lompatlah menembus jendela kaca, jatuh dari ketinggian tiga lantai, dan bersyukurlah tulang-tulangmu tidak remuk ketika jatuh di atap mobil seperti Chace. Semua demi merebut sebuah laptop milik agen rahasia negeri lain berisi data penting. Aksi heroik itupun dipandang salah besar oleh Crocker, karena seharusnya Chace menembak mati seluruh lawannya dan melenggang dengan laptop tsb.

Atau relakan dirimu disiksa bagai binatang hingga nyaris kehilangan kesadaran, sambil menunggu kesempatan terbaik. Rebut linggis didekatmu, remukkan kepala sang pengawal, tusuk perut pengawal yang lain dan rebut senapannya, lalu tembak kepala pengawal terakhir. Akhirnya anda mampu keluar dari ruang tahanan dan lari ke seberang perbatasan negara.

Qc4a Terkadang dalam Queen & Country, nampaknya mereka yang sangat percaya kebenaran hanyalah para teroris dan fanatis. Para agen disini tidak berhenti untuk ceramah. Mereka menyembunyikan perasaannya, dan lebih dari satu misi digerakkan bukan karena patriotisme atau keinginan untuk melindungi yang tak berdosa. Mereka melakukannya semata karena mental ‘kita tak bisa membiarkan mereka menang’. Percayakah anda mereka bisa saja mati saat tugas bukan karena kelalaian dan inkompetensi? Mereka mati semata karena kesalahan informasi yang diberikan sumbernya. Sanggupkah sebuah dinas rahasia membiarkan agennya turun ke lapangan dengan informasi tidak akurat? Mampukah mereka duduk tenang di ruang monitor, ketika komunikasi terputus dengan sang agen yang berada ribuan mil disana? Kesuksesan operasi bergantung pada kehandalan dan keberuntungan sang agen. Jika ia sukses, operasi sukses. Jika ia mati atau tertangkap dan buka mulut, insiden akan memicu perang antar negara.

Setiap halaman pembaca dihibur dengan gambar-gambar yang efektif, padat, dialog seefisien mungkin, tanpa warna alias hitam/ putih, dan setiap satu rangkaian episode dilukis oleh komikus yang berbeda. Setiap komikus memberikan warna tersendiri, mulai dari ilustrasi realis hingga comical, namun semuanya dengan cerdik mampu memvisualisasikan cerita Greg Rucka dengan tepat. Tercatat bahkan Tim Sale, ilustrator film seri televisi Heroes dan serial Daredevil: Yellow, juga ikut bagian. Siapapun sang ilustratornya, ketegangannya tetap sama.

Rucka juga membuat beberapa kisah Queen & Country dalam format novel, selain serial Whiteout yang sedang dalam proses adaptasi ke layar perak. Jika anda pecinta cerita-cerita spionase dan intelijen, sudah waktunya kini mengenal Greg Rucka dengan Queen & Country-nya. Siapa bilang komik eksklusif bacaan anak-anak?

                            

BACA KOMIK DI TELEPON SELULAR

Oleh Surjorimba Suroto
Dipublikasikan di harian Koran Tempo, suplemen Ruang Baca, 24 Februari 2008

Sejarah baru komik lokal

Sebuah layanan baru dari operator telepon seluler Telkomsel belum lama ini diluncurkan dan ditujukan terutama bagi mereka yang menyukai komik. Dengan layanan yang dinamai M-Komik (http://www.m-komik.co.id) itu, kini para pelanggan operator yang bersangkutan dapat membaca komik melalui layar ponsel. Layanan yang terbilang baru di Indonesia ini didukung oleh inTouch sebagai penyedia perangkat lunak dan tiga komunitas komik: Akademi Samali, Splash, dan KomikIndonesia.com. Acara peluncuran M-Komik ketika itu dipimpin langsung oleh Kiskenda Suriahardja, Direktur utama Telkomsel, dan dihadiri pula oleh sang legenda komik nasional, R.A. Kosasih. Selain mengundang sambutan meriah, banjir pertanyaan perihal prospek masa depan M-Komik menjadi topik utama. Apakah masyarakat tertarik membaca komik di layar ponselnya? Bukankah layar ponsel memiliki ukuran terbatas? Masih ada belasan pertanyaan lain seputar komik ponsel ini.

Semua pihak yang terlibat menyatakan optimisnya. ”Saya yakin komik ponsel ini akan membangkitkan lagi gairah membaca komik di kalangan pembaca,”ujar R.A. Kosasih saat dimintakan pendapatnya. Mengapa tokoh yang oleh banyak pihak dianggap sebagai Bapak Komik Indonesia berharap seperti itu? Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sejak awal dekade 1990-an, komik nasional seakan tak mendapat tempat di hati pembaca komik. Banjir komik terjemahan asal Amerika, Jepang dan Eropa sejak satu dekade sebelumnya membuat komik Indonesia bertarung head-to-head di pasar. Pilihan menjadi semakin beragam, dan kondisi pasar akhirnya berbicara. Para seniman komik pun satu per satu mengendor atau beralih profesi, termasuk sang legenda, R.A Kosasih, yang menutup perjalanan karirnya. Bahkan industri penerbitan, distribusi dan toko buku tak banyak mendukung. Perlahan komik nasional pun memudar dari pentas dunia gemerlap.

Memang komik lokal tidak mati atau kalah begitu saja. Secara sporadis komikus generasi muda lahir dan melahirkan karya dengan cara-cara baru. Go Indie, begitu istilah yang populer bagi para seniman yang secara independen mencoba untuk terus melawan dominasi komik terjemahan. Namun terjangan badai sangat kuat, dan sulit rasanya untuk kembali menjadi raja di negeri sendiri.
Situasi inilah yang melatarbelakangi lahirnya M-Komik. Satu pihak mengajak pihak lain bekerja sama, dan kini lahirlah era baru dalam komik nasional. Tak banyak riwayat masa lalu tentang cikal bakal komik ponsel di Indonesia. Kondisi ini berbeda dengan negara lain. Di Amerika dan Jepang, contohnya, komik ponsel sudah sangat populer dan mempunyai pasar sendiri.

Sudah satu dekade yang lalu komik sebenarnya memasuki era digital. Di banyak negara sebagian artis sudah memulainya dengan memproduksi komik yang hanya bisa diperoleh secara digital-artinya, tidak tersedia dalam media kertas. Komik digital ini hanya bisa dinikmati melalui layar komputer. Tak lama pembaca pun bisa berlangganan komik secara online, gratis, ataupun bayar. Sepanjang anda terhubung dengan dunia maya, anda sudah dapat menikmatinya. Dimanapun dan kapanpun anda berada. Tentu saja komik digital memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda dengan komik kertas. Tapi pembaca mulai terbiasa dan bukannya tidak mungkin dalam waktu dekat akan lahir sebuah revolusi: anda tak dapat lagi mendapatkan komik tercetak di kertas. Isu pengrusakan lingkungan, pemanasan global, semakin berkurangnya bahan baku kertas, dan makin berkurangnya luas hutan di seantero dunia menjadikan harga kertas tidaklah murah seperti dulu. Dunia membutuhkan alternatif.

Komik digital tidak luput dari kekurangan, termasuk pula komik ponsel. “Kesulitan utama adalah media yang terbatas, sementara komikus harus dapat menyampaikan gagasan dalam ruang yang terbatas tersebut,“ begitu diakui oleh Beng Rahadian dari Akademi Samali. Hal serupa juga diakui Ariela Kristantina dari Splash.”Keterbatasan pada layar ponsel membuat komikus terpaksa mengurangi text balloon pada setiap panel gambar. Bahkan tidak ada sama sekali, karena teks pada balon sulit dibaca," katanya. Padahal, menurut dia, komik ponsel mensyaratkan teks berjalan di setiap panel sebagai pengganti balloon text. Bentuk panel pun harus seragam, yaitu landscape semua atau portrait semua. Tidak bisa bervariasi sebagaimana buku komik. Belum lagi pewarnaan secara digital, bukan dengan kuas dan cat”

Namun semuanya menjadi tantangan bagi komikus. Tidak ada kata menyerah sebelum mencoba. Prinsip ini yang diusung para komikus senior seperti Hans Jaladara, Mansjur Daman, Armin Tanjung, Djair Warni, dan lainnya saat ikut terjun meramaikan M-Komik. Mereka tak mau kalah bersaing dengan semangat komikus muda seperti Zarki, Wahyu Hidayat, Vanessa Maryanto, Olivia Twilanda, Diyan Bijac, dan puluhan lainnya. Karya-karya Teguh Santosa, Wid NS dan Ganes Th pun ikut berpartisipasi, walaupun  terpaksa ’disesuaikan’ agar memenuhi syarat komik ponsel. Semua komikus itu yakin bahwa komik ponsel menjadi alternatif yang menjanjikan, baik dari segi kreatif maupun segi komersial. Keyakinan ini seakan jawaban atas keraguan sebagian komikus yang belum yakin dengan manfaatnya serta awam dengan media dan persyaratan teknis.

Pembaca dapat menikmati pula berbagai efek melalui ponselnya, seperti suara bom atau pistol meletus, derap langkah kaki, atau jeritan korban. Sensasi berupa audio dan getaran pada ponsel tentunya tak didapat pada buku komik. Tetapi untuk bisa menikmati M-Komik ada beberapa persyaratan teknis pada ponsel anda. Mulai dari kapasitas memori, GPRS dan bluetooth, serta operating system berbasis Java atau Symbian. Terdengar eksklusif dan njlimet, memang, tapi teknologi yang dibangun dirancang untuk mendekati imajinasi tim kreatif. Bukannya tidak mungkin dalam perkembangannya, semua menjadi lebih mudah.

Era baru dalam sejarah komik nasional telah lahir. Sudah siapkah anda dan pesawat telepon seluler anda?

KOOL & THE GANG

dipublikasikan di majalah Sound Up edisi Desember 2007

Lupakanlah artis yang lain, karena malam ini milik Kool & The Gang. Mungkin kalimat ini terasa provokatif, tapi benarlah kenyataannya. Minggu, 25 Nov 2007, pada malam terakhir JakJazz 2007, penampilan Kool & The Gang adalah yang paling dinantikan. Penonton sudah mengantri penuh di semua pintu masuk, dan rasanya antrian tak kunjung habis. Pertunjukan sempat terlambat karena sedang perbaiki sound system. Sebelumnya saat Don Grusin manggung, ada beberapa gangguan. Semoga saja gangguan ini tidak separah penampilan perdana Kool & The Gang di Jakarta tahun 1983.

Kool & The Gang langsung mengajak penonton bergoyang dengan Fresh. Formasi band yang sudah jauh berubah sejak masa keemasannya dua dekade lalu, tidak tampak ada penurunan. Robert ‘Kool’ Bell (sax), Khallis Bayyan (dulu bernama Ronald Bell; bass), dan George Brown (keys), didampingi 9 personil lainnya seakan tak ada matinya. Dengan deretan musisi yang atraktif, rasanya malam ini tak akan pernah berakhir. Suatu kekaguman pada band yang tahun depan akan berusia 40 tahun.

Kenikmatan penonton sempat terganggu dengan masalah suara, namun hal ini segera diselesaikan. Selain hits 80an (Too Hot, Let’s Go Dancing, Joanna, Cherish, Take My Heart) dan 70an (Hollywood Swinging, Jungle Boogie, Open Sesame, Summer Madness), Kool & The Gang memperkenalkan dua buah lagu dari album terbarunya. “Memang kami sudah lama tak mengeluarkan album dengan isi materi baru, tapi kami baru saja merilisnya. Nanti kami akan membawakan beberapa diantaranya,”janji Robert “Kool” Bell saat konferensi pers,“Kamipun sangat senang diundang kemari. Penyelenggaraan JakJazz 2007 sangat rapi dan kami sangat terkesan. Kalian patut bangga dengan profesioalisme panitia, dan kami bangga bisa hadir untuk kalian.”

Lagu-lagu yang pada dekade 70an dan 80an itu memang sangat akrab di telinga. Terbukti dari tak henti-hentinya penonton bergoyang, berteriak, dan melompat sepanjang pertunjukan. Tidak hanya mereka di deretan depan panggung, tapi juga mereka di tribun atas. Malam ini benar-benar menjadi malam reuni 80an, dan Kool & The Gang menjadi rajanya. Terkadang timbul kekaguman, karena nyata Robert, Khallis dan Dennis sudah berusia lanjut. Di usia 60 tahunan, rasanya janggal menyaksikan mereka sedemikian groovy di panggung. Tapi tampak stamina yang prima dengan kemeja putih santai dan celana jeans, membuat mereka lebih muda 30 tahun. Mereka bahkan beberapa kali tampil solo dan rasanya mereka tak ada matinya.

Malam menjadi semakin meriah ketika Get Down On It menghiasi telinga. Penonton tak hentinya menyanyi dan bergoyang, terutama ketika lagu anthem masa itu Ladies Night dinyanyikan. Rasanya masa-masa diskotik Ebony, Pitstop atau Oriental Jakarta, serta Studio East Bandung kembali hidup. Tentu saja hanya lampu disko kerlap-kerlip itu yang malam ini absen. Tapi antusiasme penonton mengalahkan itu semua, dan Kool & The Gang menutup pertunjukan dengan Celebration. Hingga 15 menit setelah itu, para personil masih setia menjabat tangan para penonton dan memberikan tanda tangannya kepada apapun yang disodorkan penonton.

JakJazz 2007 secara tepat menempatkan Kool & The Gang sebagai artis penutup panggung utama. Rasanya tidak ada lagi yang mampu menghibur sedemikian fenomenal pada malam terakhir selain Kool & The Gang.

SATORU SHIONOYA GROUP

Ketika jadwal penampilan Dji Sam Soe Super Premium JakJazz 2007 dirilis, banyak yang asing dengan nama para artisnya. Satoru Shionoya (Jepang) termasuk satu diantaranya. Warna musik dan kiprahnya tak banyak dikenal. Namun penampilan Satoru Shionoya Group pada Jum’at malam, 23 Nov 2007 mengubah keraguan penonton. Band beranggotakan lima musisi ini membuat penonton terus bergoyang, berdecak kagum, dan tak meninggalkan arena hingga mereka tampil lagi untuk sebuah encore. Satoru Shionoya Group hadir berkat The Japan Foundation bersama seluruh personil yang melahirkan album Hands of Guido (2006), dan juga memainkan hampir semua tembang dalam album tsb. Satoru (grand piano), Yoshito Tanaka (gitar, produser), Katsumi Hirashi (bass), Eiji Tanaka (drum) dan Masatoshi Kainuma (perkusi) membuktikan bahwa janji mereka saat konferensi pers tidaklah omong kosong. Kelima musisi mempertontonkan kemahiran bermusik tingkat dunia, dengan ketrampilan tingkat tinggi dan luasnya wawasan musik diluar musik jazz. Perhatikan saja saat Introduction dilantunkan. Diawali dengan komposisi piano klasik, dilanjutkan dengan dinamika jazz secara penuh energi, dan kembali ditutup dengan komposisi klasik. Atau pada Mr. Tap-man yang kerap memberi tempat bagi Eiji dan Masatoshi untuk berimprovisasi dengan menambah keragaman dibanding versi lagu studionya. Permainan jazz yang menghentak disuguhkan melalui Skinny-Dipper. Walaupun sangat terasa peran piano dalam setiap komposisi, peranan gitar mendapat tempat istimewa dan bersanding harmonis dengan piano. Tidaklah berlebihan jika Yoshito pantas dipuji berkat kehandalannya sebagai penata musik dan produser album Hands of Guido. Permainan gitar akustik sangat menawan, terutama saat berduet dengan Satoru pada lagu Doodle dan Azami.

Pengamat musik senior Bens Leo sempat menyatakan kekagumannya kepada penampilan kelima pemuda Jepang ini. “Mereka sempat memainkan tiga komposisi selama 30 menit pada malam gala dinner, dan penampilan mereka sangat mengagumkan. Kelima musisi semuanya pendekar musik dan mampu berkomunikasi dengan penonton. Malam ini saya sangat antusias untuk menikmati hiburan mereka kembali,”ungkap Bens Leo. Terbukti kelima musisi sangat atraktif sepanjang 1,5 jam. Keragaman wawasan musik sempat dilontarkan saat wawancara. Terasa atmosfir jazz, klasik, rock, latin dan funk silih berganti memberi nyawa. Sungguh rugi mereka yang luput menjadi saksi kehebatan mereka di JakJazz 2007. Album Hands of Guido diyakini dapat diterima di masyarakat, terutama di negerinya sendiri. Diperkirakan sudah terjual 40.000 keping dan menjadi prestasi tersendiri di Jepang, yang saat ini wajah musik jazz tidak semegah beberapa dekade sebelumnya. Yoshito dan Satoru bercerita tentang tanggapan generasi muda dan respon pasar Jepang. Banyak musisi muda, sama halnya dengan mereka, yang berkelana menimba ilmu di luar negeri. Kelak mereka akan kembali ke Jepang ketika sudah berpengalaman. Satoru dan rombongan senang berbagi cerita dan pengalaman dalam bermusik, termasuk pengalaman dalam industri musik. Kehadirannya di Indonesia untuk pertama kalinya ini menjadi salah satu tonggak sejarah bagi Satoru Shionoya Group, dan malam itu penonton JakJazz 2007 menjadi saksinya.

JAKJAZZ 2007 part 2

Minggu, 25 Nov 2007, adalah hari terakhir JakJazz 2007. Masih lelah karena reuni SMA malam sebelumnya. Malam itu saya tiba di rumah mendekati adzan subuh! Rasanya ingin kembali memeluk bantal…..

Seperti biasa suasana Istora Senayan mulai meriah di sore hari itu. Panggung Garden Stage sudah menampilkan artisnya, dan penonton memenuhi halaman teduh. Saya menyambangi merchandise booth dan menemukan satu lagi CD Satoru Shionoya yang terbaru, Eartheory. Langsung saja saya beli, dan setelah itu menyadari tidak banyak uang tersisa di dompet. Saya harus menghemat malam ini. Jika tidak, saya tidak punya uang untuk pulang ke Bogor.

Seperti biasa pula, saya mampir ke media center dan kali ini kembali bertemu Gideon dan Yuri. Saya dan Gideon sangat bergembira mendapati kami masing-masing mengenakan tshirt Genesis. Kehadiran di JakJazz semata-mata karena tugas, tapi hati kami tetap saja rock=). Melihat barisan internet sedang kosong, saya pun mengaksesnya dan mengunduh lagu I Need Your Love dari Lonnie Liston Smith yang dikirim Yanti. Mengunduhnya di rumah selalu terbentur koneksi yang lambat. Sementara di media center ini, saya menyelesaikan file sebesar 5 MG dalam waktu 3 menit saja!

Di panggung utama Monday Michiru sedang beraksi, setelah dua kali menyaksikannya pada JakJazz 2006, rasanya kali ini saya absen dulu. Kul Kul, band jazz etnik Bali, sudah menunjukan kehebatannya di Big Stage. Saya menikmatinya sambil makan kebab. Senang menyaksikan Kul Kul tampil dengan 3 orang pemusik tradisional Bali. Nanti disini Tompi akan tampil, sementara Bali Lounge akan tampil di panggung sisi lain Istora Senayan. Bazzattack tampil di Garden Stage.

Melewati deretan booth media, saya berjumpa dengan Arsal, music director radio Trijaya. Kami melanjutkan pembicaraan beberapa minggu lalu tentang rencana produksi acara jazzytunes di radio Trijaya FM. Tak lama Beben bergabung ngobrol. Kebetulan ia juga akan diwawancara secara live oleh Trijaya FM. Berpapasan juga dengan Addo, teman semasa SMA dulu. Kami bertukar cerita tentang reuni SMA malam sebelumnya. Tak jauh dari tempat saya duduk, terdapat booth penjual aneka merchandise. Saya tertuju pada dua buah map plastik bergambar Tintin & Snowy di Bulan. Harganya Rp 45.000,-. Duh tidak jadi saya membelinya. Selain harganya, rasanya tidak terlalu penting mengkoleksi map plastik ini. Milik saya bergambar roket saja belum pernah digunakan.

Duduk berbalas sms dengan teman sungguh menyenangkan. Malam itu saya ber-sms ria dengan Liza, sahabat dekat yang tinggal di KL. Ia sangat iri tidak bisa hadir di JakJazz. Lalu ia mengajak untuk ngobrol lebih gampang di internet. Saya segera menuju media center. Namun tertahan karena bertemu seorang sahabat dekat lain yang juga kerabat dan sama-sama pernah bekerja di perusahaan yang sama, Hussein Sutadisastra. Kami ngobrol banyak, terutama seputar keluarga. Ketika Monday Michiru lewat, Hussein meminta tolong saya untuk memotretnya bersama Michiru.

Kebetulan ada PC nganggur, dan saya segera koneksi internet. Berbincang beberapa lama dengan Liza tentang banyak hal. Mulai dari seputar JakJazz, sampai hal lainnya. Chatting terpaksa dihentikan karena panitia JakJazz akan segera konferensi pers. Tak mungkin saya tidak hadir dan berchatting-ria. Lha wong ruang konferensi pers bersebelahan dengan meja saya.

Panitia (Tommy & Esther Maulana, anak2 Ireng Maulana) dan perwakilan Sampoerna, menyampaikan sambutannya. Mereka sangat berterima kasih dengan partisipasi media dan menyampaikan peningkatan mutu dan jumlah penonton dibanding tahun lalu. Usai acara ini, kami para wartawan tetap berjaga karena konferensi pers Kool & The Gang akan segera dimulai.

Hadir dengan 7-8 personil, Robert, Khallis dan George dengan senang menjawab setiap pertanyaan. Saya sempat menyodorkan sampul CD Salute To The Ladies (1995) yang sayangnya gagal di pasaran. Padahal ini adalah salah satu album terbaik mereka, IMHO, terutama disini JT Taylor reuni sebentar. Ketika saya memintakan tanda tangan, mereka sempat tersenyum dan mengatakan ini adalah album yang bagus. Mereka berterima kasih saya sudah memilikinya. Saya juga mengatakan bahwa ini adalah album favorit saya. Sayang saya tak sempat berfoto bersama dengan Kool & The Gang.

Usai konferensi pers, kembali saya berkeliling kompleks Istora. Saya bertemu dengan Andrew and Ade, pasangan yang sebenarnya teman saya di dunia komik dan film. Kebetulan juga Andrew adalah adik kelas semasa SMA. Jadi kami juga membicarakan suasana reuni SMA malam sebelumnya. Ketika waktu mendekati Kool & The Gang, saya pun menuju ke panggung utama.

Sempat tertahan memasuki ruangan, saya berhasil menyelinap diantara ribuan penonton dan mendapatkan posisi dekat panggung. Fresh menjadi lagu pembuka dan semua penonton langsung bergoyang. Take My Heart melanjutkan malam, namun sayang sempat ada gangguan suara. Suara Kool & The Gang hilang dari pendengaran! Cuma drum saja yang terdengar. Beruntung sekitar 2 menit, suasana kembali normal dan kami pun terus bergoyang. Kool & The Gang masih melanjutkan dengan Joanna, dua lagu dari album terbaru, Cherish, Hollywood Swinging, Jungle Boogie, Summer Madness, Open Sesame, hingga akhirnya tiba pada Let’s Go Dancing, Get Down On It, dan tentu saja lagu yang paling saya tunggu: Ladies Night! Buat info aja, album Ladies Night adalah kaset pertama yang saya beli, ketika itu tahun 1980. Kenangan lagu ini nyaris sepajang hidup saya.

Tidaklah berlebihan mengatakan malam itu menjadi milik Kool & The Gang. Sepanjang malam penonton tak henti-hentinya bergoyang, bernyanyi, melambaikan tangan dan melompat. Tidak hanya mereka yang berdiri di depan panggung. Tapi juga mereka yang duduk di tribun. Tak jauh dari tempat saya berdiri, nampak seorang wanita kulit hitam, ramping, dan sangat cantik. Wah tadinya saya kira hanya Halle Berry yang cantik. Ternyata masih ada yang lainnya.

Tak terasa malam sedemikian larut hingga Kool & The Gang menutupnya dengan Celebration. Ingin rasanya mereka bernyanyi terus. Para personil Kool & The Gang menyalami mereka semua di depan panggung dan melayani setiap permintaan tanda tangan. Ini berlangsung hingga 15 menit! Malam itu benar-benar menjadi malam yang indah dan pantas dikenang. Saat itu saya merindukan seseorang yang seharusnya bisa berbagi keceriaan bersama Kool & The Gang dan saya disini…..